anggoro_ti wrote: thank you mr.smile
infonya bener2 membantu. ada topik neh:
1. dengan tarif operator selular yang semakin murah, apakah pelanggan
yang lama akan berpindah ke operator operator yang baru?apakah
swtching cost di industri telekomunikasi rendah ato tinggi?jika rendah
mengapa masih banyak konsumen masih bertahan memakai telkomsel yang
kita tahu tarifnya paling mahal.
2. metode distribution channel apa yang paling sesuai dengan industri
telekomunikasi. yang kita tahu dimana2 kita mudah membeli pulsa, di
warung, di mall, dimana mana deh. apakah mereka mengadposi distribus
channel FMCG ya? jenis distribution channel seperti ini bahasa
ekonominya apa ya? trus apa ada celah celah baru dalam distribution
channel di industri telekomunikasi.
saya mohon diskusinya, karna saya memerlukan sekali pendapat teman2 hehehe.
diskusi tentang topik yang diusung Mas Anggoro:
mungkin saya mau berpendapat untuk no 1. Tarif murah memang kadang menjadi motivasi utama untuk berpindah operator. Namun ada kalanya itu bukan menjadi motivasi seseorang untuk pindah operator. Kenapa?
beberapa alasannya adalah karena:
Jadi banyak operator baru yang menargetkan segmen yang belum terlayani, bukannya merebut segmen yang udah dimasuki pesaing: coba lihat dari iklan Ceria milik Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI) atau wifone nya Esia
kalau merebut pasar yang udah dikuasai pesain, misalnya pelanggan yang base di Jakarta dan kota 2 besar lain... operator harus menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan pesaingnya dan tidak hanya itu saja, Harus ada kompensasi bagi mereka yang menanggung switching Cost, aku ada ide disitu... hehehe..... ide lagi... ide lagi. kapan terealisasi. ....
Telkomsel Terus dipakai karena:
1. Ya...tarif mahal kalau pelanggan puas gimana? sampai di pucuk gunung lawu aja ada sinyal, dipedalaman pertambangan rakyat di hutan kalimantan sana ada sinyal, trus ada switching costnya juga kalau mau pindah operator.
2. Sudah terlanjur makai sejak 10, atau 5 tahun lalu jauh sebelum operator lain banyak yang muncul. dulu termasuk yang sinyalnya terluas dan terkuat (GSM: Geser Sedikit Mati ....tahun 1995 - 1998nan, sebelum deregulasi telekomunikasi dimulai)
2. Telkomsel pandai meretensi pelanggannya. .. dulu tahun 2000an sering bikin acara Telkomsel intimates party buat usernya..sekarang call centernya terbaik di regional AsiaPasifik
3. Kepercayaan dan Image Telkomsel yang lebih Indonesia (walau 30an persen sahamnya dipegang Singtel--->>Temasek). kok bisa lebih Indonesia? dari iklan, gambar voucer, gambar di kartu Halo, dll dll
4. pengguna baru memakai telkomsel karena ada 40 an juta pemakai Telkomsel dan ada tarif khusus juga tho untuk menelpon dan sms sesamanya. kayak Friendster: kemapa pada milih buat account di friendster kenapa nggak Facebook, Orkut, Myspace, Beboo, Netlog dll? ya karena udah ada banyak teman di Friendster dibanding di Jaringan sosial maya yang lain....
Jawaban No 2 Dari teman - teman juga sangat saya Harapkan... biar saya ngerti juga soal distribusi pulsa.... kemarin temen yang jualan pulsa bilang: Hanya nomor telkomsel DIY-Jateng saja yang bisa dilayani penjual di DIY - Jateng... distributornya: M-tronic atau apa gitu lho yang bikin aturan gitu. nggak tahu apakah merketing telkomsel juga bikin strategi itu atau malah gak tahu sama sekali.. ada efeknya kah?
infonya bener2 membantu. ada topik neh:
1. dengan tarif operator selular yang semakin murah, apakah pelanggan
yang lama akan berpindah ke operator operator yang baru?apakah
swtching cost di industri telekomunikasi rendah ato tinggi?jika rendah
mengapa masih banyak konsumen masih bertahan memakai telkomsel yang
kita tahu tarifnya paling mahal.
2. metode distribution channel apa yang paling sesuai dengan industri
telekomunikasi. yang kita tahu dimana2 kita mudah membeli pulsa, di
warung, di mall, dimana mana deh. apakah mereka mengadposi distribus
channel FMCG ya? jenis distribution channel seperti ini bahasa
ekonominya apa ya? trus apa ada celah celah baru dalam distribution
channel di industri telekomunikasi.
saya mohon diskusinya, karna saya memerlukan sekali pendapat teman2 hehehe.
diskusi tentang topik yang diusung Mas Anggoro:
mungkin saya mau berpendapat untuk no 1. Tarif murah memang kadang menjadi motivasi utama untuk berpindah operator. Namun ada kalanya itu bukan menjadi motivasi seseorang untuk pindah operator. Kenapa?
beberapa alasannya adalah karena:
- nilai nomor HP yang terlanjur dipakai terlalu berharga dibandingkan dengan keuntungan yang didapat dari tarif murah dengan berpindah operator: Business contact, yang lain udah pada tahu jika si A nomornya X dll
- Fitur, kemudahan, kualitas dll yang sudah familiar digunakan sehari - hari.
- Image, Im3 misalnya imagenya untuk anak sekolahan/kuliahan, Telkomsel, XL, Mentari imagenya untuk orang - orang yang tidak terlalu memikirkan biaya telekomunikasi, ganti - ganti nomor imagenya.... ada...lah... . pakai Pasca Bayar baisanya para profesional, eksekutif, maneger dll pokoknya yang mapan deh keuangannya
- dll
Jadi banyak operator baru yang menargetkan segmen yang belum terlayani, bukannya merebut segmen yang udah dimasuki pesaing: coba lihat dari iklan Ceria milik Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI) atau wifone nya Esia
kalau merebut pasar yang udah dikuasai pesain, misalnya pelanggan yang base di Jakarta dan kota 2 besar lain... operator harus menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan pesaingnya dan tidak hanya itu saja, Harus ada kompensasi bagi mereka yang menanggung switching Cost, aku ada ide disitu... hehehe..... ide lagi... ide lagi. kapan terealisasi. ....
Telkomsel Terus dipakai karena:
1. Ya...tarif mahal kalau pelanggan puas gimana? sampai di pucuk gunung lawu aja ada sinyal, dipedalaman pertambangan rakyat di hutan kalimantan sana ada sinyal, trus ada switching costnya juga kalau mau pindah operator.
2. Sudah terlanjur makai sejak 10, atau 5 tahun lalu jauh sebelum operator lain banyak yang muncul. dulu termasuk yang sinyalnya terluas dan terkuat (GSM: Geser Sedikit Mati ....tahun 1995 - 1998nan, sebelum deregulasi telekomunikasi dimulai)
2. Telkomsel pandai meretensi pelanggannya. .. dulu tahun 2000an sering bikin acara Telkomsel intimates party buat usernya..sekarang call centernya terbaik di regional AsiaPasifik
3. Kepercayaan dan Image Telkomsel yang lebih Indonesia (walau 30an persen sahamnya dipegang Singtel--->>Temasek). kok bisa lebih Indonesia? dari iklan, gambar voucer, gambar di kartu Halo, dll dll
4. pengguna baru memakai telkomsel karena ada 40 an juta pemakai Telkomsel dan ada tarif khusus juga tho untuk menelpon dan sms sesamanya. kayak Friendster: kemapa pada milih buat account di friendster kenapa nggak Facebook, Orkut, Myspace, Beboo, Netlog dll? ya karena udah ada banyak teman di Friendster dibanding di Jaringan sosial maya yang lain....
Jawaban No 2 Dari teman - teman juga sangat saya Harapkan... biar saya ngerti juga soal distribusi pulsa.... kemarin temen yang jualan pulsa bilang: Hanya nomor telkomsel DIY-Jateng saja yang bisa dilayani penjual di DIY - Jateng... distributornya: M-tronic atau apa gitu lho yang bikin aturan gitu. nggak tahu apakah merketing telkomsel juga bikin strategi itu atau malah gak tahu sama sekali.. ada efeknya kah?



0 komentar:
Poskan Komentar